Dokrin Jiwa: Memahami Hidup sebagai Kesatuan
Dalam budaya Jawa Kuna, dokrin jiwa memerlukan cara memahami hidup yang baik, benar, dan tepat. Dokrin ini berhubungan dengan konsep "Rahayuning Bawono Kapurbo Waskithaning Manungso", yang artinya mencapai keselarasan dan kelestarian hubungan antara Tuhan, alam, dan manusia.
Memahami hidup sebagai "Sangkan Paraning Dumadi" dapat dipahami melalui tiga cara: memahami dengan akal rasional (lahiriah), memahami dengan batin (utamanya rasa), dan memahami dengan cara tradisi (luas dan mendalam, termasuk alam Gaib).
Dengan demikian, implikasi dari keempat cara tersebut menghasilkan cara memahami hidup dalam tatanan "sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, dan sembah rasa". Keutamaan manusia Jawa adalah "Rasa", karena tanpa ini maka hidup tidak lengkap.
Tetapi, keutamaan manusia itu tidak cukup dipahami saja, tetapi perlu proses internalisasi pada "pembiasaan cara hidup" (diologi sistem nilai, norma, pandangan dunia), dan tindakan (perbuatan itu sendiri). Hormat pada apapun sehingga bisa menghasilkan "inti Manusia Jawa", yang artinya menjadi manusia yang memiliki kesadaran dan keterlibatan dalam setiap perbuatannya.
Pembiasaan habitus Jawa secara utuh tanpa tercerai berai untuk menghasilkan apa yang disebut Roh objektif Ausdruck (ungkapan nyata cara hidup). Lewat habitus ini, maka manusia Jawa akan mengalami hidup sebagai penghayatan bersifat Otentik atau primodial sebelum dipikirkan.
Ide dasar dokrin mental Manusia Jawa Kuna ialah, semuanya yang ada merupakan suatu kesatuan yang teratur (kosmos), berkat suatu prinsip yang menjamin kesatuan itu, yakni jiwa dunia (logos). Logos itu tidak lain dari Budi Ilahi, yang menjiwai segala, dan penyatuan diri manusia.
Dalam dokrin ini, konsep "Sangkan Paraning Dumadi" dapat dipahami sebagai proses internalisasi dan penghayatan hidup. Proses ini memerlukan kemampuan batin, kemampuan tafsir Hermeneutika Semitioka, dan kompetensi untuk memahami makna dan simbol dalam percakapan dan kehidupan batin.
Dengan demikian, penjelasan "Sangkan Paraning Dumadi" dapat dipahami sebagai proses menuju kesadaran diri manusia, yang menghasilkan penghayatan hidup sebagai Kesatuan.