Scatter Diagram adalah salah satu jenis diagram statistik yang digunakan untuk menampilkan hubungan antara dua variabel berupa data numerik. Diagram ini membantu memahami korelasi atau hubungan antara dua variabel, serta mendeteksi apakah terdapat pola-pola tertentu dalam data.

Pengukuran Sumbu Vertikal dan Horizontal

Pengukuran sumbu vertikal dan horizontal pada Scatter Diagram sangat penting untuk menampilkan data dengan benar. Pada umumnya, sumbu vertikal digunakan untuk menggambarkan variabel yang dipelajari (Y), sedangkan sumbu horizontal digunakan untuk menggambarkan variabel lain (X). Pengukuran sumbu vertikal dan horizontal dapat berbeda-beda tergantung pada tujuan analisis.

Interval Waktu

Interval waktu adalah rentang waktu tertentu yang digunakan untuk menampilkan data. Interval waktu ini membantu memahami perubahan nilai variabel selama kurun waktu tersebut.

Pembuat Scatter Diagram

Scatter Diagram dapat dibuat oleh individu atau tim yang memiliki kemampuan analisis data dan penggunaan teknologi informasi. Pada contoh kasus di atas, pembuat Scatter Diagram adalah Dickson Kho, yang bergerak dalam industri perakitan elektronik.

Contoh Kasus Pembuatan Scatter Diagram

Perusahaan A mempunyai Tenaga Kerja sebanyak 300 orang dan bergerak di bidang industri perakitan elektronik. Mereka menghadapi permasalahan atas tingginya tingkat kerusakan dalam produksi, yang dicurigai karena jumlah absensi operator (tenaga kerja) yang tinggi.

Berdasarkan data tersebut, maka kita dapat membuat Scatter Diagramnya dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:

Langkah 1 – Pengumpulan Data

Pengumpulan data sebanyak 30 data (n = 30) seperti yang ditampilkan dalam tabel di atas.

Langkah 2 – Pembuatan Sumbu Vertikal dan Horizontal

Sumbu horizontal: nilai maksimum untuk absensi adalah 6, dan minimumnya adalah 1. Sumbu vertikal: nilai maksimum untuk tingkat kerusakan adalah 5,6, dan minimumnya adalah 0,7.

Langkah 3 – Penebaran Data (Data Plotting)

Lakukan penebaran data sesuai dengan tabel di atas dengan cara menggambarkan titik-titik X dan Y.

Langkah 4 – Pemberian Informasi

Berikan informasi dan judul Scatter Diagram seperti contoh dibawah ini:

  • Judul: Hubungan antara Absensi dengan Tingkat Kerusakan
  • Banyak pasangan data: n = 30
  • Judul dan unit pengukuran:
  • Sumbu vertikal: Tingkat Kerusakan (%)
  • Sumbu horizontal: Jumlah Absensi (Orang)
  • Interval waktu: 01 ~ 30 November 2012
  • Nama Pembuat/Penanggung: Dickson Kho

Cara Membaca Scatter Diagram

Dari bentuk grafik yang dihasilkan, maka grafik dari Scatter Diagram di atas dinyatakan memiliki hubungan Positif (korelasi positif) yang artinya makin tinggi jumlah absensi tenaga kerja akan mengakibatkan tingkat kerusakan yang makin tinggi pula. Jadi jika ingin mengurangi tingkat kerusakan produk, salah satu tindakan yang harus dilakukan adalah mengurangi tingkat absensi tenaga kerja.

Pola dalam Scatter Diagram

Terdapat 3 pola dalam Scatter Diagram yaitu:

  1. POLA POSITIF SCATTER DIAGRAM Yaitu pola yang menunjukkan hubungan atau korelasi positif di antara variabel X dan Y dimana nilai-nilai besar dari variabel X berhubungan dengan nilai-nilai besar variabel Y, sedangkan nilai-nilai kecil variabel X berhubungan dengan nilai-nilai kecil variabel Y.
  2. POLA NEGATIF SCATTER DIAGRAM Yaitu pola yang menunjukkan hubungan atau korelasi negative di antara variabel X dan Y dimana nilai-nilai besar variabel X berhubungan dengan nilai-nilai kecil variabel Y, sedangkan nilai-nilai kecil variabel X berhubungan dengan nilai-nilai besar variabel X.
  3. POLA TIDAK MEMILIKI HUBUNGAN (TIDAK BERKORELASI) Yaitu pola yang menunjukkan tidak terdapat hubungan antara variabel X dan Y.

Dengan menggunakan Scatter Diagram, kita dapat memahami korelasi atau hubungan antara dua variabel, serta mendeteksi apakah terdapat pola-pola tertentu dalam data.