Pulau Natal, sebuah wilayah Australia yang terletak di Indian Ocean, sejak dulu sudah diketahui sebagai salah satu tempat wisata yang populer. Namun, tidak banyak orang yang tahu bahwa pulau ini juga pernah menjadi rumah bagi casino yang sangat berkelompok.

Pada tahun 1980-an, sebuah perusahaan bernama Christmas Island Resort Pty Ltd (CIR) didirikan untuk membangun sebuah resor dan kasino di Pulau Natal. Proyek tersebut dipimpin oleh Frank Woodmore, seorang developer properti asal Perth, yang memiliki visi untuk membuat Pulau Natal menjadi destinasi wisata yang popular.

Pada tahun 1993, CIR resmi diberikan lisensi casino oleh pemerintah Australia dan resornya diresmikan sebagai Christmas Island Casino and Resort. Casino tersebut sangat populer di kalangan pelaku bisnis dari Indonesia dan negara-negara lainnya, serta menjadi sumber pendapatan yang signifikan bagi pulau ini.

Namun, keberhasilan casino tersebut tidak bertahan lama. Pada tahun 1997-98, Krisis Keuangan Asia mempengaruhi operasional casino dan resor, sehingga pada tahun 1998, CIR mengalami kebangkrutan dan lisensinya dicabut.

Setelah itu, resort tersebut ditutup dan pulau ini mengalami dampak ekonomi yang sangat buruk. Pada tahun 2000, resortnya dijual kepada David Kwon, seorang businessman asal Sydney, dan kemudian dioperasikan sebagai penginapan untuk staf yang bekerja di Pulau Natal.

Pada tahun 2002, investigasi jurnalisme menunjukkan bahwa casino tersebut mungkin telah digunakan untuk mencucurkan uang, sehingga nama Pulau Natal menjadi terkait dengan kasus money laundering.

Meskipun beberapa upaya telah dilakukan untuk membuka kembali casino tersebut, namun hingga saat ini, belum ada tindakan yang efektif untuk mengembalikan keseruan Pulau Natal sebagai destinasi wisata yang populer. Namun, terdapat beberapa komite yang menawarkan rekomendasi untuk membuka kembali casino tersebut dan membuat Pulau Natal menjadi destinasi wisata yang lebih baik lagi.

Lokasi dan Fasilitas

Resort Christmas Island Casino and Resort berlokasi di sebuah area seluas 47 ha, dengan masa sewa 99 tahun yang diberikan oleh pemerintah Australia. Resort tersebut memiliki 156 kamar tamu dan suite, serta fasilitas lain seperti restoran, klub malam, dan kolam renang.

Dalam masa operasionalnya sebagai casino, resort tersebut memiliki 43 mesin slot dan 23 meja permainan judi. Selain itu, CIR juga mempunyai lodge yang berisi 80 kamar motel-style di Poon Saan, serta 144 unit apartemen untuk akomodasi staf.

Sumber

  • "Risky Business: Inquiry into the tender process followed in the sale of the Christmas Island Casino and Resort". www.aph.gov.au. September 2001.
  • "Christmas Island casino should reopen: committee". ABC News. 4 September 2014.
  • Murdoch, Lindsay (21 July 2004). "Casino ruling will destroy our future, say islanders". The Sydney Morning Herald.
  • "4C: The Christmas Party". web.archive.org. 27 December 2002.
  • "APSN | Casino 'used to launder money'". www.asia-pacific-solidarity.net.
  • Wright, Tony; Narushima, Yuko (30 June 2009). "Casino for asylum housing". Brisbane Times.
  • Wright, Tony (1 July 2009). "Give casino to community, says island chief". The Age.
  • Joint Standing Committee on the National Capital and External Territories (23 June 2015). "Governance in the Indian Ocean Territories - Interim Report: Economic Development". www.aph.gov.au. Parliament of Australia.
  • "Budget 2021: Delivering for Indian Ocean Territories". Mirage News. 13 May 2021.
  • Parliament of Australia (24 May 2021). "Hansard". www.aph.gov.au.

Referensi

  • Judgment of the Supreme Court of Western Australia in the matter of Casinos Austria International (Christmas Island) Pty Ltd v Christmas Island Resort Pty Ltd [1998] WASC 387

10°27′26″S 105°42′18″E / 10.45722°S 105.70500°E