Dalam beberapa tahun terakhir, industri esports telah mengalami kesulitan, dengan pengundaan massal dan perusahaan seperti Riot Games yang memecat 11% karyawan. Dalam situasi seperti ini, EWC (Esports World Cup) datang sebagai berita baik untuk komunitas esports.

EWC adalah turnamen esports terbesar di dunia, di mana tim-tim esports ternama seperti T1, FlyQuest, Gen.G Esports, Fnatic, dan G2 Esports bersaing dalam 21 judul esport. Club yang menunjukkan kinerja terbaik di antara judul-judul tersebut akan dianugerahi sebagai juara EWC.

Dalam EWC, tim-tim esports tidak hanya bersaing untuk hadiah uang, tetapi juga untuk hadiah bantuan player dan prestasi overall. Hadiah yang besar ini akan dibagikan melalui berbagai kategori, termasuk hadiah bounty player dan hadiah prestasi overall.

EWC juga menawarkan kesempatan bagi lebih dari 20 merek ternama, seperti Adidas dan KitKat, untuk membentukpartnership yang baru dan menguntungkan dengan tim esports selama turnamen. Pada bulan Juni, Warner Bros. Discovery, CNN's parent company, dan Esports World Cup Foundation sepakat untuk berpartisipasi dalam EWC bersama Eurosport, CNN, dan platform lainnya dari WBD.

Walau demikian, Reichert, pendiri Esports World Cup Foundation, tidak menyalahkan industri esports yang sedang mengalami kesulitan. Menurut Reichert, turnamen seperti EWC sangat penting untuk memungkinkan tim-tim esports tumbuh dan meningkatkan partisipasinya dalam turnamen tahunan.

Selain itu, EWC juga meluncurkan inisiatif "EWC Club Program" yang bertujuan mempromosikan perencanaan yang berkelanjutan untuk 28 klub esports di seluruh dunia dengan pembayaran tahunan sebesar enam juta dolar. Inisiatif ini bertujuan memberikan platform bagi organisasi-organisasi untuk tumbuh dan meningkatkan partisipasinya dalam turnamen.

Namun, EWC juga telah menjadi topik yang sangat kontroversial. Banyak orang mempertanyakan keterkaitan turnamen dengan Saudi Arabia, sebuah negara yang dikritik karena "sportswashing" (menggunakan acara olahraga untuk proyeksi citra yang positif global). Negara ini juga telah dihukum atas pelanggaran hak asasi manusia.

Reichert mengakui bahwa Esports World Cup Foundation, yang secara resmi berjalan turnamen, adalah organisasi non-profit. Namun, ia juga membagikan bahwa pemerintah Saudi Arabia telah menelanjangi sebagian biaya turnamen.

Dalam hal ini, Saudi Arabia's influence in esports (pengaruh Saudi Arabia dalam esport) menjadi sangat signifikan. Negara ini berencana untuk mengembangkan industri esports sebagai bagian dari upayanya untuk memperluas ekonominya dan meningkatkan ketergantungan pada energi terbarukan.

Namun, organisasi hak asasi manusia seperti Amnesty International juga menyalahkan pengaruh Saudi Arabia dalam esport. "Saudi Arabia adalah negara yang investasi miliaran dollar dalam esport, sebuah industri yang tumbuh berbasis online, sementara menghukum siapa pun yang melakukan kritik online dengan hukuman penjara dan bahkan hukuman mati," kata Dana Ahmed, peneliti Middle East Amnesty International.

Dalam beberapa tahun terakhir, Saudi Arabia telah menjadi aktor penting dalam industri esport. Pemerintah Saudi Arabia-controlled Public Investment Fund (PIF) telah membeli beberapa perusahaan besar dalam industri, termasuk Savvy Gaming Group (SGG). SGG kemudian membeli ESL, seorang organizer esport terkemuka, dan FACEIT, sebuah platform digital utama.

Namun, kehadiran EWC di Saudi Arabia juga menjadi topik yang sangat kontroversial. Banyak orang menyalahkan pengaruh Saudi Arabia dalam industri esport dan menyalahkan turnamen sebagai bagian dari upaya "sportswashing" negara ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, industi esports telah mengalami kesulitan. Namun, EWC datang sebagai berita baik untuk komunitas esports. Dengan hadiah yang besar dan kesempatan bagi tim-tim esports untuk tumbuh, EWC menjadi acara olahraga yang paling ditunggu-tunggu dalam industri esport.

Sumber:

  • Esports World Cup (EWC)
  • Riot Games
  • Warner Bros. Discovery
  • Amnesty International