Waktu pengambilan gambar bisa dilakukan kapanpun, baik siang, malam atau petang dengan mempertimbangkan pencahayaan, kondisi tempat pemotretan dan menguasai penggunaan berbagai aksesori kamera untuk mendapatkan gambar yang kita inginkan. Setiap kamera pasti memiliki karakteristik sendiri-sendiri, oleh karena itu penting sekali bagi seorang fotografer menguasai spesifikasi kamera yang mereka miliki. Untuk melakukan pengaturan white balance kita memerlukan benda berwarna putih, bisa menggunakan kertas, baju ataupun dinding.
Pengaturan fokus secara manual dapat dilakukan dengan cara menggeser ke mode Manual(M) panel fokus yang ada di lensa. Untuk menghasilkan foto sesuai gambar disamping kanan dibutuhkan settingan shutter speed yang rendah, hal ini akan memperbanyak cahaya yang masuk yang sangat berguna apabila dilakukan dimalam hari. Seringkali para pemilik kamera saku biasanya hanya menggunakan kameranya untuk memfoto moment-moment tertentu saja, padahal sebenarnya ada banyak hal yang bisa kita eksplor menggunakan kamera saku kita. Pilihan mode makro memberikan pilihan memotret pada jarak focus terdekat dibandingkan dengan biasanya.
Fungsi penggunaan tripod maupun timer adalah untuk mengurangi efek goyangan ketika mengambil foto. Untuk mendapatkan focus foto yang maksimal usahakan mengambil background yang simple, sehingga nantinya gambar yang kita dapatkan lebih terfokus pada objek tujuan dan lebih enak dilihat.
Kedua hal ini baik focus maupun settingan aperture saya berikan pada bagian akhir karena tidak semua kamera saku memiliki fitur ini. Kira-kira seminggu lalu saya berkesempatan mencoba Olympus OMD EM-1 Silver edition berkat pinjaman dari Pak Gunawan Setiadi.
Sebelum saya berangkat, Pak Gunawan mengatakan kelebihan sistem micro four thirds (Olympus+Panasonic) terletak pada ukuran lensanya yang kecil-kecil terutama lensa lebarnya. Selain itu, kamera ini penampilannya ganteng, sangat mirip dengan desain kamera film jaman dulu.
Olympus OMD EM-1 termasuk kamera mirrorless yang mengunakan sensor micro four thirds, yang ukurannya lebih kecil dari APS-C dan full frame.
Hasil foto dari kamera ini di kondisi cahaya yang terang, atau saat saya mengunakan tripod, sangat tajam.
Di contoh foto dibawah ini, saya membandingkan hasil foto berjenis RAW (file foto mentah) yang saya proses dengan software yang berbeda: Adobe Photoshop Lightroom dan Olympus Viewer. Kinerja autofokus kamera ini relatif cepat, terutama untuk subjek tak bergerak dan saat mengunakan jarak fokus lensa yang tidak terlalu tele. Secara keseluruhan, saya sangat menikmati mengunakan Olympus OMD EM-1 karena ukurannya yang relatif kecil dan antarmukanya bagus: tuas, tombol dan pegangan yang pas posisinya dan nyaman di tangan. Dari pengalaman saya selama memotret dengan EM-1, bisa saya tarik kesimpulan bahwa kamera ini tidak begitu bagus untuk foto pemandangan yang menginginkan detail sebanyak mungkin, tapi sangat bagus untuk street photography dan traveling light. About the author: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer.
Memotret dengan lensa kit seharusnya tidak membuat kita merasa terbatas dan tidak mampu menghasilkan foto yang bagus. Teknik-teknik dasar tersebut adalah komposisi objek yang baik, pencahayaan yang seimbang dan fokus yang tajam.
Anggap saja kita menggunakan kertas maka caranya adalah menempatkan kertas pada bidang tertentu, gunakan pencahayaan yang sedang (tidak kurang atau kelebihan), gunakan manual fokus dan usahakan seluruh frame foto terisi dengan kertas tersebut.


Aturlah skala kelvin sesuai gambar diatas, hasil foto haruslah tampak netral, yakni tidak kekuningan atau kebiruan. Dengan begitu fokus dapat kita atur ketajamannya secara manual dengan cara memutar ring fokus pada lensa. Semakin tinggi ISO maka semakin sensitif pula sensor sehingga gambar yang dihasilkan akan memiliki lebih banyak cahaya, sebaliknya semakin rendah settingan ISO maka semakin minim pula cahaya yang masuk ke sensor kamera .
Pada beberapa jenis pocket camera atau kamera saku terdapat memiliki fitur makro yang bisa kita manfaatkan untuk foto close up.
Untuk mendapatkan hasil foto makro yang bagus dengan menggunakan kamera saku kita ada beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya.
Mode makro memberikan focus pada objek lebih tajam karena aperturenya besar dan background agak kabur.
Untuk pencahayaan sebaiknya dihindari penggunaan flash pada kamera karena akan membuat hasil foto kurang bagus, demikian pula dengan sinar matahari langsung juga tidak bagus.
Dengan menggunakan manual focus kita akan lebih mudah menentukan titik focus foto yang ingin kita pilih dibandingkan dengan auto focus.
Pesan lainnya yaitu saya dianjurkan mengunakan software dari Olympus supaya kualitasnya lebih bagus.
Fotografer berpengalaman akan menyukai kamera untuk digunakan di lapangan karena bisa dengan mudah mengubah setting tanpa harus masuk ke menu. Maka itu, kualitas gambarnya tidak setara dengan kamera dengan sensor besar segenerasi, terutama di ISO tinggi (diatas 800). Di kasus ini, sepertinya hasil proses foto antara Lightroom dan Olympus Viewer kurang lebih sama di mata saya.
Lensa pancake ini sangat tipis, sehingga tidak memberatkan dan juga mudah disimpan ke dalam tas. Berkat stabilization di body kamera, saya bisa memotret dengan tajam di shutter speed relatif lambat. Saat saya zoom ke 100-150mm, kinerja autofokus menurun dan sesekali tidak bisa mengunci fokus. Hal yang saya kurang sukai yaitu kualitas gambarnya (pengendalian noise dan detail yang ditangkap) masih dibawah kamera yang bersensor gambar lebih besar (APS-C dan full frame).
Lensa kit yang dijual bersama body kamera yang anda beli meski terkesan murah dan lambat, asalkan kita bisa menggunakan dengan optimal bisa menghasilkan foto yang super keren dan fantastis.
Pengaturan white balance bisa dengan menggunakan skala kelvin atau dengan gambar-gambar untuk menyatakan temperature pencahayaan ruangan seperti cloudy, tungsteen, white flourescent dll.
Fokus manual sering digunakan dalam kasus minim cahaya seperti indoor atau kondisi di malam hari.
Hal ini juga akan memiliki efek lain karena area tajam akan semakin sempit dan area bokeh akan semakin lebar. Seperti gambar diatas, semakin rendah ISO semakin rendah pula noise, sebaliknya semakin tinggi ISO maka semakin tinggi pula  noisenya. Meski kualitasfoto makro dengan kamera saku jauh di bawah kamera DSLR dengan memakai lensa makro, kamera saku juga mampu memberikan hasil jepretan yang lumayan bagus.
Jarak focus kamera makro antar kamera berbeda-beda disini anda dapat menyesuaikannya untuk mendapatkan hasil yang maksimal.


Dengan menggunakan tripod tersebut goyangan dan getaran tersebut dapat diminimalisir sehingga mendapatkan gambar yang tajam dan tidak blur. Cara yang baik adalah dengan memanfaatkan cahaya matahari yang tidak langsung seperti di dari jendela ataupun membuat pantulan cahaya sederhana menggunakan kertas putih atau Styrofoam untuk menerangi bagian yang gelap. Nilai x merupakan besaran bidang focus yang ingin diambil, semakin besar nilai x maka semakin luas focus bidangnya demikan sebaliknya.
Saya membawa cuma dua lensa ke ranah Minang yaitu 20mm dan 45-150mm dengan pertimbangan logistik. Saya pernah mencoba Olympus OMD EM5 sebelumnya dan salah satu keluhan saya adalah banyaknya noise di ISO yang relatif rendah seperti ISO 400.
Tapi saya sendiri masih lebih suka proses Lightroom, karena detail masih terjaga, dan nantinya saya bisa menerapkan selective noise reduction di area-area penting saja. Walaupun demikian, untuk cetak sampai ukuran A2 menurut saya masih tetap bagus asal fotonya dibuat dengan pencahayaan dan teknik yang baik. Karena sy mencari kamera yg mumpuni disegala cuaca, terus terang hasil akhir karya seni sy adalah di atas Kanvas Lukis, jadi bukan hasil cetak foto. Kita bias saja menggunakan satu diantara beberapa pilihan sesuai dengan kondisi yang dihadapi misalkan disiang hari dibawah pohon bias memilih shade, atau disituasi mendung kita bias memilih cloudy. Gunakan mode auto apabila tidak ingin repot mengaturnya, fokus akan bergerak otomatis untuk menyesuaikan zoom.
Bukaan aperture lebar banyak digunakan dalam fotografi portrait untuk mengisolasi subjeknya dari background sehingga Nampak menonjol. Alat ini juga bisa dikendalikan dari jarak jauh sehingga gambar yang dihasilkan akan lebih tajam. Kita harus menemukan setting ISO yang pas untuk kamera, dan dari kasus gelas diatas pada kisaran 320-800 karena lebih dari itu gambar over exposure dan kurang dari itu gambar terlihat redup atau kurang cahaya. Hasil yang saya dapatkan dengan lensa ini menurut saya cukup tajam dan detail untuk ukuran lensa kit yang harganya sangat terjangkau (US$200). Lensa fix (gak bisa zoom) berbukaan besar ini bisa membuat latar belakang yang relatif blur seperti contoh foto dibawah ini. Tidak hanya sebatas preset karena kita bisa mengatur angka temperature sesuai keinginan dicustom temperature.
Beberapa teknik pengambilan gambar yang berkaitan dengan jarak adalah 1.Extreme Long Shot(Pandangan Sangat Luas) 2.
Jadi semakin cepat gerakan objek yang ingin kita tangkap maka semakin besar pula satuan shutter speednya.
Bukaan kecil sendiri banyak digunakan untuk fotografi landscape, dimana tujuannya adalah untuk menampilkan kesan 3 Dimensi, jadi semua area perlu tajam, sense of depth maupun sense of scale perlu ditonjolkan.
Agar  gambar yang dihasilkan maksimal gunakanlah ISO 100 dan naikkan hanya jika memang dibutuhkan. Dalam memilih lensa dengan aperture lebar, maka salah satu pertimbangannya adalah jumlah blade, karena semakin banyak maka bokeh akan Nampak semakin lembut dan berbentuk kebulatan.



Baby photo shoot bolton
Great places for photo shoots in phoenix gratis
How to take night photos with canon dslr
Keyword research hubspot


Comments to «Setting kamera dslr yang bagus elektronik»

  1. Elvira on 12.09.2015 at 10:44:59
    Fortunately, with trendy digital cameras, it's potential to take grab.
  2. shokaladka on 12.09.2015 at 21:41:18
    That these illusions give scale of the display grid on which your.
  3. INKOGNITO on 12.09.2015 at 21:19:31
    Digital?�there are a number of special effects you'll in fact, you need to use will in all probability.